MANIFESTO, MAKASSAR– Fahri Hamzah di sela-sela lawatannya ke berbagai DPW Gelora menyempatkan melakukan dialog dengan organ gerakan mahasiswa di Makassar.
Dalam diskusi tersebut, mantan bintang di DPR RI itu menjelaskan beberapa persoalan transisional yang jika tidak diatasi akan membahayakan bangsa.
“Saya menyaksikan secara massif kegagalan memahami narasi-narasi inti bernegara,” ungkap Fahri dalam dialog di salah satu warkop di kawasan Boulevard Makassar itu.
“Kompleksitas kultural kita, kesulitan dicerna elit. Indonesia adalah negara kepulauan. Negara-negara besar yang eksist sekarang adalah kontinen (daratan), Amerika, China, Rusia, Uni Eropa,” kata Fahri yang tetap tampil “garang”.
Dalam penjelasannya, satu-satunya negara dengan belasan ribu pulau, ratusan suku, ratusan bahasa dan dipimpin secara demokratis tetapi utuh karena adanya narasi kebangsaan yang besar sekali.
Menurut Fahri, Pancasila yang dulu menjadi alat pemersatu, sekarang dijadikan sebagai alat pemecah belah dengan mengaku sebagai yang pancasilais dan yang lain tidak.
Persoalan lain menurut Fahri adalah melemahnya kapasitas negara karena lemahnya kapasitas elit. Terorisme, narkoba, korupsi muncul rutin dan tidak selesai.
“Saking bingungnya, Pak Nurdin Abdullah, yang diberi penghargaan berulang-ulang tiba-tiba menjadi begitu. Kelembagaan negara tidak punya kemampuan menjaga hal yang bernilai seperti itu,” tambah Mantan Wakil Ketua DPR RI ini.
“Indonesia harus menjawab tantangannya sendiri. Dan ini harus dijawab oleh anda semua sebagai generasi baru,” tutup Fahri.
Editor: Azhar



