Akhir-akhir ini tidak asing terdengar tentang healthy cities, istilah yang sering digunakan dalam konsep kota/kabupaten sehat. Gaungnya mulai menggema seiring kebutuhan masyarakat tentang pentingnya kesehatan dalam multi kehidupan yang kompleks.
Sebuah perwujudan dan harapan besar tentang potret kesehatan dimasa depan terhadap masyarakat. Konsep healthy cities sesungguhnya adalah sebuah pemberdayaan masyarakat dan penggerakan multi sektoral sebagai ujung tombak terselenggarakannya program-program dalam perwujudan menuju kota/kabupaten sehat baik di Sulawesi selatan sendiri maupun di Indonesia secara menyeluruh.
Hal ini merupakan sebuah pergerakan global untuk sebuah perubahan dan peningkatan besar yang tidak hanya bertumpu pada sektor kesehatan, tetapi juga mengacu pada semua sektor bahkan lintas sektor dalam tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan dan implementasi yang harus efektif. Hal ini sejalan dengan dikeluarkannya aturan bersama antara Kementerian Dalam Negeri dan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015 tentang penyelenggaraan kabupaten/kota sehat di Indonesia.
Bahwa healthy cities adalah sebuah upaya pembangunan wilayah dengan pendekatan kota sehat (healthy cities approach) nampaknya semakin penting dalam konteks perkembangan kota, mengingat implikasi kesehatan yang ditimbulkannya dan dampaknya yang besar terhadap masyarakat. Untuk itu perencanaan yang matang adalah sebuah langkah awal yang baik.
Mewujudkan healthy cities adalah melihat bagaimana determinan dan kontrol di luar sektor yang sangat dominan dan menantang (Sukri Pallutturi, 2013, : S Pallutturi et al, 2013) sehingga beberapa indikator-indikator umum ditetapkan seperti adanya dukungan pemda, adanya program pendukung di sektor, berfungsinya tim pembina, berfungsinya forum, dan adanya kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat.
Tiga unsur kunci yang berhubungan dengan kesehatan adalah model sehat yang positif, model sehat yang ekologis, dan perhatian kepada ketidaksamaan dalam kesehatan (health inequalities). Unsur-unsur utama memerhatikan strategi yang berfokus pada proses, kebijakan publik, dan pemberdayaan masyarakat. Sehingga muara sebenarnya dari healthy cities adalah bagaimana pemberdayaan terhadap masyarakat dapat sampai dan berjalan efektif sehingga melahirkan masyarakat yang mau dan mampu mandiri dalam mengelolah berbagai aspek kehidupan termasuk persoalan kesehatan baik dalam diri sendiri, rumah tangga sampai pada lingkungannya masing-masing.
Kredo sebuah pemberdayaan yang sesungguhnya adalah “Datangi mereka, hidup bersama mereka, berbicara dengan bahasa mereka, rencanakan bersama mereka, laksanakan bersama mereka.”
Kota sehat adalah konsep lama sekaligus baru, lama dalam arti bahwa manusia telah lama berusaha membuat kota lebih sehat sejak awal peradaban perkotaan (urban civilization). Baru dalam manifestasi sebagai satu sarana utama untuk promosi kesehatan titik awal proyek kota sehat adalah pengakuan bahwa kota berperan bermakna dalam mempromosikan kesehatan dan berada pada posisi yang unik untuk mengimplementasikan upaya kesehatan masyarakat.
Hal tersebut tercermin dalam pemikiran terkini tentang ekologi dan lingkungan. Selanjutnya, dinyatakan bahwa konsep kota sehat merupakan resep untuk kehidupan yang berkualitas dalam suatu lingkungan spesifik bernama perkotaan.
Menurut filosofi kota sehat, kota seharusnya menyediakan lingkungan fisik yang bersih dan aman berdasarkan ekosistem yang berkesinambungan. Kota seharusnya menawarkan kepada warga akses pada prasyarat untuk sehat mencakup makanan, pendapatan, tempat tinggal, dan pengalaman yang beragam berdasarkan ekonomi yang beragam, penting, dan inovatif.
Seluruhnya harus terjadi pada latar belakang berbagai faktor historis dan kultural yang bersifat lokal. Pendekatan yang digunakan adalah membangun kembali masyarakat secara holistik yang berkeseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Hal tersebut berhubungan dengan perbaikan kualitas kehidupan dan kelembagaan sosial. Menurut Douglass (2002), dalam Livable City dapat dikatakan bertumpu pada 4 (empat) pilar, yaitu: Meningkatkan sistem kesempatan hidup untuk kesejahteraan masyarakat, penyediaan lapangan pekerjaan, lingkungan yang aman dan bersih untuk kesehatan, kesejahteraandan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan good governance.
Menyelesaikan berbagai diskoneksitas antara bidang perencanaan dan kesehatan masyarakat adalah esensial tidak hanya pada peningkatan urban governance pada tingkat lokal tetapi pada pemahaman dan penyelesaian perubahan politik global karena itu kebijakan pada level yang lebih tinggi sangat diharapkan yaitu dukungan kebijakan dan anggaran serta bantuan asistensi dari pemerintah provinsi, nasional dan internasional.(Sukri Pallutturi, Health Politics. 2015)
Beberapa kegiatan telah dilaksanakan baik dalam bentuk Pelatihan Nasional oleh PERSAKMI (Perhimpunan sarjana Kesehatan masyarakat Indonesia) Pengurus Daerah Sulawesi selatan dengan mengusung tema “Pengembangan Kapasitas Healthy cities Kabupaten/Kota di Indonesia” yang melibatkan peserta pelatihan se-Indonesia dari berbagai daerah dan provinsi tidak hanya dari Sulawesi selatan namun dari luar daerah seperti Yogyakarta, Kalimantan, Papua, dll. Dan berasal dari multi sektor yang ada. Hal ini menjadi acuan penting bagi para tenaga kesehatan bahwa dalam mewujudkan healthy cities perlu sinergi yang besar dan duduk bersama antara seluruh komponen yang ada agar dapat terwujud derajat kesehatan masyarakat sesuai dengan citia-cita dan tujuan kita bersama.
Semoga apa yang menjadi tujuan serta harapan kita dalam menjadikan kabupaten/kota seluruh wilayah Indonesia menuju healthy cities dapat terwujud.
Penulis: Westy Tenriawi
Dosen Kesehatan Politeknik Indonesia



