Survey PSI Hanya 0,2 Persen, LSI: Salah Strategi

MANIFESTO.com, JAKARTA- Partai Solidaritas Indonesia kesulitan menaikkan elektabilitasnya dan sulit menembus angka parlementary treshold di Pemilu 17 April mendatang.

Rendahnya elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia  atau PSI yang mencitrakan diri sebagai partai milenial menurut peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar akibat salah strategi.

Bacaan Lainnya

“PSI mengambil visi dan misi yang belum tentu disukai khalayak ramai,” kata Rully usai pengumuman hasil survei lembaganya di Jakarta dikutip Tempo.co, Jumat, 5 April 2019.

Berdasar hasil survei LSI Denny JA, PSI yang digadang-gadang sebagai partai alternatif itu hanya meraih 0,2 persen, jauh dari ambang batas parlemen empat persen.

“Kita tahu, pemilih Indonesia 90 persen muslim,” kata Rully.

Rully memahami isu penghapusan perda syariah dan poligami merupakan strategi PSI untuk meraup ceruk pemilih minoritas. Namun, melihat elektabiltas PSI yang masih nol koma, upaya tersebut pun gagal.

“Pemilih nonmuslim ini kan belum tentu semuanya memilih PSI. Pemilih minoritas ini kan sudah merapat ke partai lama, salah satunya PDIP,” kata Rully.

Sebagai partai baru, lanjut Rully, sebenarnya PSI memiliki diferensiasi dengan parpol-parpol lain. Namun, diferensiasi ini belum bisa mengangkat elektabilitas PSI sampai saat ini.

“PSI belum bisa meyakinkan publik bahwa PSI bisa menjadi (alat) perubahan. Ini butuh proses,” ujarnya.

Selain PSI, menurut survei LSI Denny JA, partai yang terancam tidak lolos ke parlemen ialah PBB (0,2 persen), PKPI (0,1 persen), Partai Garuda (0,1 persen), dan Berkarya (0,7 persen).

Sementara yang masih belum aman PAN (3,1 persen), PKS (3,9 persen), PPP (2,9 persen), Nasdem (2,5 persen), dan Perindo (3,9 persen).

Sedangkan parpol yang potensial lolos ke Senayan adalah PDIP 24,6 persen, Gerindra 13,4 persen, Golkar 11,8 persen, Partai Demokrat 5,9 persen, dan PKB 5,8 persen.

Survei LSI Denny JA itu dilakukan pada 18-26 Maret 2019 dengan menggunakan metode “multistage random sampling” yang melibatkan 1.200 responden di 34 provinsi.

Survei tersebut menggunakan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner dengan “margin of error” +/- 2,8 persen.

Editor: Azhar

 

Pos terkait