MANIFESTO.com, TAKALAR- Mustaqiem alias Deni Nialang mendadak populer di sosial media setelah mengklaim diri sebagai tenaga ahli Wakil Bupati Takalar Achmad Se’re.
ASN yang bertugas sebagai staf di Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHK) Takalar ini mengaku sebagai pemikir dari Wabup Takalar. Karena mengemban “jabatan” tenaga ahli wabup, Deni Nialang pun “malas- malasan” berkantor.
“Sangat jarang terlihat di kantor, alasannya karena beliau tenaga ahli Pak Wabup,” kata Kepala Kabid Kebersihan DLHK Takalar Dody Riyansaputra kepada wartawan, Kamis 15 Agustus 2019.
Dody yang menjabat Kabid DLHK selama lima bulan terakhir mengaku, jarang melihat beraktivitas di kantornya. Karena jarang berkantor, sejumlah tugasnya di DLHK terabaikan.
“Tugasnya terabaikan, tapi kita tak berani menegur karena mengaku tenaga ahli Pak Wabup,” ungkap alumni IPDN Jatinagor itu.
Dengan status tenaga ahli, Deni Nialang pun kencang melontarkan pembelaan terhadap kepentingan Achmad Se’re. Bahkan, mantan pejabat di Dinas Perhuhungan itu kerap “menyerang” kebijakan pemerintah daerah.
Terakhir, Deni sangat getol mengkritik Tim Seleksi Tenaga Kesehatan di Dinas Kesehatan. ASN yang dikenal cukup vokal itu menilai seleksi itu tidak dilakukan secara profesional.
Melihat gelagat Deni, Ketua Lembaga Pemerhati Masyarakat Indonesia Aristo Syafar mengaku heran jika ada ASN yang kerap menyerang kebijakan pemerintah. Apalagi sebagai ASN, harusnya tidak meributkan kebijakan pemerintah di ranah publik, semisal sosmed.
“Saya heran melihat ada ASN yang mengkritik kebijakan pemerintah, apalagi secara terbuka di sosmed, kalau mau mengkritik secara terbuka, oposisi begitu, ya mundur jadi ASN, jadi aktivis LSM atau politisi,” ungkap Syafar yang sebelumnya terlibat debat dengan Deni Nialang di sosmed.
Terkait kurangnya kehadiran Deni di kantornya, Syafar mendesak Inspektorat Takalar untuk menindak ASN di lingkup Pemkab Takalar itu. Menurut Syafar, Pemkab Takalar tidak boleh melakukan pembiaran terhadap ASN yang “nakal”.
“Perlu pembinaan dari Inspektorat, biar kinerjanya lebih baik lagi ke depan, tidak boleh ada pembiaran karena saya melihat itu contoh yang buruk,” pinta alumni Universitas Muhammadiyah Makassar itu.
Editor: Azhar


