Kapan Pandemi Covid 19 Berakhir? Ini Ulasan Epidemiolognya

  • Whatsapp
Prof Dr Ridwan Amiruddin. (Int)
Prof Dr Ridwan Amiruddin. (Int)

MANIFESTO, TAKALAR – Pemkab Takalar terus berusaha menurunkan angka penularan angka infeksi reproduksi efektif (Re/Rt)  agar masyarakat Takalar bisa memasuki hidup normal baru ( new normal life).

“Kenapa dikatakan new normal? Karena kehidupan pasca pandemi tidak akan bisa 100 persen kembali ke semula sebab ada komunitas baru yang membersamai kehidupan kita yaitu  Covid 19. Kita membutuhkan tatanan baru untuk menyelaraskan hidup manusia dengan virus tersebut.” 

Bacaan Lainnya

Demikian dikatakan Irma Andriani, Ketua Forum Kabupaten Sehat (FKS) mengawali webinar Kabupaten Kota Sehat( KKS) series 1, Rabu 1 Juli 2020 yang bertemakan Tatanan Tetap Sehat di Era Pandemi Covid.

Kegiatan ini dibuka oleh Bupati Takalar, Syamsari Kitta yang memberikan arahan kepada masyarakat bahwa meski saat ini trend penularan virus corona di Takalar mengalami penurunan. Namun,  warga Takalar harus tetap memperhatikan dan menerapkan protokol kesehatan dalam tiap beraktivitas karena menurut prediksi WHO puncak penularan COVID 19 dimulai pada bulan Juni.

“Saya sangat berharap agar kita semua bisa mensinkronkan ide-ide baru untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita agar bisa bertahan di tengah pandemi saat ini,” imbuh Syamsari.

Lalu kapan pandemi berakhir di Takalar? Ahli epidemiologi dari Universitas Hasanuddin Prof Dr Ridwan Amiruddin memberikan petunjuk tanda- tanda pandemi berakhir. Takalar saat ini kata dia, masih belum bisa beranjak ke era new normal karena angka Infeksi Reproduksi Efektif (Re/Rt) masih belum nol. 

Diketahui Re/Rt Takalar adalah 0.86 yg berarti satu pasien masih berpeluang menularkan ke satu orang. Untuk itu, agar dapat  memasuki  era new normal maka angka Re/Rt harus diturunkan hingga ke 0 (mendekati nol).  Dari sudut pandang epidemiologi, cara menghentikan pandemi adalah memutus rantai penularannya.

“Caranya yaitu menjaring orang yang punya riwayat kontak dengan pasien Covid-19, namun tidak mengalami gejala  sakit (OTG) guna mencegah penyebarluasan wabah. Pasalnya, mereka yang berstatus OTG berpeluang menularkan virus corona lebih meluas,” kata Ridwan.

Selain tracking yang digencarkan, Prof Ridwan  mengatakan, pemerintah juga harus meningkatkan kegiatan edukasi, pelacakan kasus, dan pemeriksaan masif dan. Adanya peraturan yang mengikat masyarakat untuk patuh pada protokol COVID 19 juga sangat dibutuhkan.  “Dengan upaya ini, maka dalam waktu dekat angka Re/RT akan bisa dtekan menuju angka 0,” tegasnya.

Guru Besar FKM Unhas itu juga mengakui jika trend penularan virus corona di Takalar mulai mengalami penurunan. “Ini harus dijaga agar tidak naik lagi, Mari bergotong royong memutus rantai penularan COVID 19,” kata Ridwan.

Sementara, Tokoh adat dan budayawan Galesong, Prof Dr Aminuddin Salle sangat mendukung upaya ini dan mengingatkan masyarakat akan nilai-nilai luhur orang tua terdahulu tentang arti pentingnya sebuah kejujuran, keikhlasan, tidak egois dan menjaga nilai- nila gotong royong dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Pandemi Covid 19 hadir untuk mengingatkan nilai- nila kearifan sikap para pendahulu kita,” kata Guru Besar Unhas itu.

Editor; Azhar