Kerap Berseteru, None– Zunnun Satukan Klan YL dan NH di Pilwali Makassar

  • Whatsapp
Irman Yasin Limpo alias None berbincang serius dengan Zunnun Nurdin Halid beberapa waktu lalu. (Int)
Irman Yasin Limpo alias None berbincang serius dengan Zunnun Nurdin Halid beberapa waktu lalu. (Int)

MANIFESTO, MAKASSAR – Duet Irman Yasin Limpo alias None dan Andi Zunnun Nurdin Halid (None- Zunnun) di Pilwali Makassar layak menjadi perhatian. Duet ini mengakhiri perseteruan klan Yasin Limpo dan Nurdin Halid di pentas politik Sulsel.

Selama ini, klan YL dan klan NH adalah kekuatan politik di Sulsel yang kerap berseteru. Kedua klan ini kerap menjadi rival dalam berbagai kontestasi. Terakhir, Nurdin Halid yang menggandeng Aziz Qahhar Muzakkar menjadi rival Ichsan YL yang berpasangan Andi Mudzakkar di Pilgub Sulsel 2018. Kerasnya benturan NH dan Ichsan YL memuluskan langkah Nurdin Abdullah- Sudirman Sulaiman memenangkan Pilgub Sulsel.  

Bacaan Lainnya

Pada 2016, Nurdin Halid mengambil “paksa” jabatan Ketua Golkar Sulsel dari tangan Syahrul Yasin Limpo. Di Pilwali 2013, rivalitas sengit antara klan YL dan NH juga tersaji. Klan YL diwakili None yang kala itu berpasangan dengan politisi PAN Busrah Abdullah dan klan NH diwakil Kadir Halid yang menjadi pendamping politisi Golkar Supomo Guntur.   

Namun di Pilwali Makassar 2020, situasinya menjadi berbeda. Klan YL kemungkinan akan menyatu dengan klan NH lewat duet None- Zunnun. Keduanya saling membutuhkan untuk memuluskan langkah maju bertarung di Pilwali. None membutuhkan Partai Golkar yang dipimpin NH sebagai kendaraan, sedang Zunnun butuh pasangan untuk mengarungi kerasnya kontestasi lima tahunan itu pasca ditinggalkan mantan Walikota Makassar Moh Ramdhan Pomanto.   

“Saya kira baik klan YL dan klan NH adalah keluarga politisi, mereka bisa menjadi teman atau lawan, tergantung keadaan, keduanya saling membutuhkan di Pilwali Makassar kali ini, duet None- Zunnun sangat memungkinkan, tetapi kepastian duet ini setelah rekomendasi DPP Partai Golkar yang mengusung pasangan ini terbit,” kata pengamat politik Unhas Sukri Tamma kepada Manifesto, Kamis 6 Agustus 2020.  

Ia mengatakan, jika NH bisa mengamankan Golkar untuk None – Zunnun maka pasangan ini sangat terbuka menjadi tontonan di Pilwali kali ini. Namun, turbelensi politik saat musda Golkar Sulsel bisa menjadi hambatan duet ini.

“Duet ini bisa langgeng sampai pendaftaran di KPU tergantung hasil musda Golkar Sulsel, tetapi jika pak NH bisa mengamankan rekom Partai Golkar untuk None- Zunnun meski siapapun yang terpilih, saya kira duet None- Zunnun akan mulus,” terang Sukri.  

Terkait kekuatan pasangan ini, Sukri menegaskan, pasangan ini sudah tentu akan menyulitkan para pesaingnya. Pasangan ini kata dia, akan menjadi kompetitor yang menakutkan bagi lawan politiknya.

“Menurut saya jika penyatuan None-Zunnun menjadi kandidat walikota dan wakil walikota betul-betul dapat menyatukan kekuatan dua tokoh politik NH dan SYL, pasangan ini menjadi pasangan pesaing yang kuat, pengalaman kedua keluarga ini akan menjadi modal utama,” terang Sukri.

Tantangannya adalah Syahrul Yasin Limpo, kakak kandung None tidak akan bisa full memenangkan duet None- Zunnun. Menteri Pertanian itu kini berseragam Nasdem sehingga akan memiliki kewajiban memenangkan jagoan Nasdem yang mempersiapkan duet Moh Ramdhan Pomanto- Fatmawati Rusdi.  

“Nampaknya akan sedikit terkendala secara institutif terkait dengan posisi SYL sebagai kader Nasdem yang memiliki dukungan kandidat sendiri,” tutur akademisi Universitas Hasanuddin ini.

Hal ini dapat saja menjadi celah bagi SYL untuk dapat memaksimalkan upaya dukungan terhadap Psangan None-Zunnun. Karena itu menarik menantikan langkah-langkah berikut yang akan dilakukan kedua tokoh ini pasca pendafataran di KPU nantinya pada September mendatang.

“Apakah mereka akan secara maksimal mendukung upaya pemenangan None-Zunnun atau akan terkendala aspek-aspek terkait latar belakang kepartaian. Dan, mungkin relasi politik yang selama ini diwacanakan sedikit berbeda antara NH dan SYL,” pungkas Sukri.

Penulis: Fadli Ramadhan