MANIFESTO, TAKALAR – Rehabilitasi gerbang batas kabupaten Takalar-Gowa yang menelan biaya sekitar Rp2 miliar tersebut kini telah rampung dikerjakan.
Hasilnya, pintu gerbang tersebut kini tampil elegan dan memukau juga memiliki ciri khas daerah.
Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye, mengatakan, bahwa pembangunan daerah tidak hanya sebatas kerja fisik dan administratif. Melainkan juga upaya membangun identitas, karakter, dan kebanggaan kolektif masyarakat.
Ia menyampaikan konsep Gerbang Takalar kini diposisikan sebagai simbol visi dan arah pembangunan daerah. Ia juga menegaskan bahwa sebuah daerah harus mampu berbicara melalui ruang publiknya, dan kepemimpinan tidak cukup hanya menghadirkan program, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran yang dapat dirasakan dan dipahami masyarakat.
“Gerbang Takalar bukan hanya batas wilayah. Ia adalah karya arsitektur. Kombinasi warna dan bangunan membentuk karakter, menggambarkan visi daerah, dan berpotensi menjadi ikon Takalar,” ujar Daeng Manye, Senin, 19 Januari 2026.
Menurutnya, perhatian terhadap estetika dan filosofi pembangunan merupakan bagian dari pendekatan kepemimpinan yang rasional dan berorientasi jangka panjang.
Infrastruktur publik harus memiliki makna simbolik agar mampu menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan warga terhadap daerahnya.
“Pemimpin harus mampu menerjemahkan visi ke dalam bentuk yang konkret. Gerbang ini adalah pesan visual bahwa Takalar bergerak cepat, tertata, dan memiliki identitas yang jelas,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa kepedulian terhadap wajah daerah adalah cerminan dari kepedulian terhadap masyarakatnya. Ketika ruang publik dibangun dengan konsep dan nilai, masyarakat akan merasa dihargai dan dilibatkan dalam perjalanan pembangunan.
Editor: Azhar


