Baru Selesai Dikerja, Ruas Jalan Rantepao-Batu Sitanduk Sudah Roboh

  • Whatsapp
judul gambar

MANIFESTO, TORAJA UTARA– Beginilah jadinya kalau kontraktor tak profesional bekerja. Proyek jalan yang mestinya dinikmati oleh masyarakat malah jadi masalah. Seperti halnya proyek Pembanguban jalan Rantepao, Toraja Utara-Batu Sitanduk, Luwu.

Proyek prestisius yang digagas gubernur non aktif Nurdin Abdullah itu sejatinya telah rampung, namun kenyataan di lapangan
sebagian taludnya sudah roboh pada sejumlah titik. Hal itu terungkap saat Komisi D DPRD Sulsel meninjau proyek yang bersumber darai dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) itu, Selasa hingga Kamis, pekan ini.

Bacaan Lainnya

“Kita temukan banyak kerusakan pada ruas jalan, padahal proyek ini baru selesai dikerjakan yang anggaranya bersumber dari dana PEN, saya kira ini sangat memprihatinkan,” kata Anggota Komisi D DPRD Sulsel Ady Ansar, Kamis 14 Oktober 2021 di Rantepao.

Dalam kunjungan ini, tim 1 komisi D DPRD Sulsel dipimpin Rahman Pina, didampingi Wakil Ketua Komisi Fadriaty dan beberapa anggota komisi di antaranya, Ady Ansar, Esra Lamban, Sugiarti Mangun Karim, Capt Hariady, dan Taqwa Muller.

Ady Ansar menegaskan, pihak ketiga harus bertanggung jawab atas pekerjaannya itu. Para anggota DPRD makin kesal setelah mendapat laporan warga bahwa kontraktor yang mengerjakan ruas bernilai puluhan miliar itu jarang di lokasi karena berdomisili di Papua.

“Ini pak Yusuf Rombe yang punya proyek, tinggal di Papua. Jarang dia ke sini(Toraja red,”kata seorang warga kepada rombongan anggota DPRD Sulsel. Hal itu dibenarkan Kepala UPTD Dinas PUTR Wilayah Enrekang

Hal ini dibenarkan Kepala UPTD Dinas PUTR Wilayah Enrekang Ir Cristian. “Iyya pak, ini pekerjaan pak Yusuf Rombe. Tapi setiap saat yang bersangkutan ada di lokasi. Begitu juga stafnya selalu ada,” kata Cristian.

Ia mengatakan, segera menyampaikan ke pelaksana agar kerusakan yang terjadi segera diperbaiki. Di lokasi yang sama, wakil ketua komisi D Fajriaty juga tampak geram melihat banyaknya titik kerusakan.

“Pasti kita akan meminta untuk segera dilakukan perbaikan karena ini masih tanggungan rekanan. Ini memang sangat serius,” kata legislator Partai Demokrat itu.

Selain itu, ketua DPC Demokrat Palopo ini mengatakan, pihaknya juga akan segera meminta Inspektorat Sulsel untuk turun tangan melakukan audit. Hal ini kata dia, sudah menjadi kesepakatan di internal komisi untuk memastikan penggunaan anggaran pada proyek itu sudah benar.

Selain mengunjungi ruas Rantepao Batu Sitanduk, rombongan komisi D juga mengunjungi pembangunan ruas Rantepao-Pangala yang nantinya menghubungkan Sulsel dan Sulbar.

Kondisi tak kalah memprihatinkan, karena alat berat kontraktor malah sudah disegel sub kontraktor dengan alasan mereka belum dibayar. Sementara pekerjaan baru sekitar 50 persen. Setelah dari Pangala, rombongan bergerak ke Passobo- Matangli. Di ruas jalan ini, pekerja sedang membongkar aspal yang telah dipasang yang dianggap tidak sesuai standar.

“Kami akan meminta Pihak Inspektorat untuk melakukan audit untuk memastikan tidak ada kerugian dalam proyek itu,” kata Sugiarti Mangun Karim, legislator yang sudah 6 periode duduk di DPRD.

Dalam proses perkara di KPK yang mendudukkan mantan gubernur non aktif Nurdin Abdullah, nama Yusuf Rombe, dan Andi Kemal, pengusaha yang mengerjakan proyek di Rantepao-Batu Sitanduk dan Pengala’ ikut dimintai keterangan dan saksi di pengadilan. Hanya saja, tidak jelas apakah terkait proyek itu atau tidak.

Editor: Azhar

  • Whatsapp

Pos terkait