Berbiaya Mahal, Ternyata Rapid Test Tak Efektif Cegah Penularan Covid 19

  • Whatsapp
Ombudsman menilai rapid test tidak efektif mencegah penularan Covid 19. (Ilustrasi Int)
Ombudsman menilai rapid test tidak efektif mencegah penularan Covid 19. (Ilustrasi Int)

MANIFESTO, JAKARTA – Anggota Ombudsman Alvin Lie menilai, rapid test yang selama ini digunakan untuk mendeteksi penularan Covid 19 ternyata tak efektif.

Alvin mengungkapkan jika fungsi rapid test hanya dapat menguji anti body seseorang. Ironinya, hasil rapid test digunakan untuk mendeteksi penularan virus corona dan digunakan sebagai syarat masyarakat bepergian dengan pesawat, kereta api, dan kapal.

Bacaan Lainnya

“Bahwa rapid test itu sebetulnya tidak mendeteksi apakah seseorang itu tertular Covid-19 atau tidak, hanya tes anti body, tapi digunakan sebagai syarat bepergian lewat pesawat, ketera, dan kapal laut,” kata Alvin dalam pernyataannya seperti dikutip Kumparan.com, Rabu  8 Juli 2020.

Ia pun mempertanyakan kebijakan yang masih memberlakukan rapid tes sebagai syarat bepergian. Belum lagi, biaya rapid test yang selama ini terdeteksi sangat mahal, bahkan tidak normal.  

“Apakah masih relevan memberlakukan tes anti body ini sebagai syarat bepergian bagi penumpang pesawat udara, kereta api maupun kapal, karena sebenarnya rapid test ini tidak ada gunanya untuk mencegah penularan Covid-19,” imbuhnya.

Alvin mendorong alat pemeriksaan yang ada saat ini lebih baik digunakan untuk penanganan virus corona di daerah-daerah zona merah dan memeriksa orang-orang yang dinyatakan suspect virus corona.

“Sebaiknya alat tes yang tersedia dimanfaatkan untuk pelayanan bagi daerah-daerah yang dikhawatirkan terjangkit, daerah merah atau orang-orang yang memang suspect tidak menjadi syarat administratif untuk perjalanan menggunakan pesawat, kereta atau kapal,” pungkasnya.


Alvin juga menyoroti kebijakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) soal batas biaya rapid test virus corona maksimal sebesar Rp 150 ribu. Menurutnya, kebijakan ini menunjukkan biaya rapid test selama ini memang sangat mahal dan menjadi ladang perdagangan di tengah krisis.

“Ini membuktikan bahwa selama ini biaya rapid test itu harganya gila-gilaan dan sudah menjadi komoditas dagang. Kenyataannya bisa ditekan menjadi Rp 150 ribu,” ungkap Alvin.

Seperti diketahui jika biaya rapid test selama ini berkisar antara Rp350 ribu hingga Rp500 ribu.

Editor: Azhar