BPJS Kesehatan Defisit, Penyakit Jantung dan Ginjal Paling Menguras

judul gambar

MANIFESTO.com, Jakarta– BPJS dikabarkan mengalami defisit karena lebih besar pengeluaran dibandingkan pemasukan yang diterima. Anggaran BPJS paling terkuras untuk membiayai beberapa penyakit mematikan di Indonesia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Moeloek, mengatakan bahwa iuran BPJS masih belum berimbang. Defisit terjadi karena jumlah pemasukan yang diperoleh BPJS tidak sesuai dengan yang mereka keluarkan, terutama pada beberapa penyakit tidak menular yang membutuhkan biaya mahal.

Bacaan Lainnya

“Iuran BPJS memang belum imbang. Masih ada perbedaan yang besar antara penerimaan dan pengeluaran. Hasilnya penerimaan ini masih tidak cukup untuk pengeluaran besar terutama pada penyakit tidak menular,” terang Menkes Nila, dalam acara Dies Natalis ke-69 FKUI, Salemba, Jakarta Pusat seperti dikutip dari Okezone. .

Menurut data yang diperoleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) penyakit mematikan pertama yang menyerang masyarakat Indonesia adalah jantung dan stroke. Meski bukan penyakit baru, tapi masyarakat Indonesia masih tidak mampu menjaga kesehatannya supaya tehindar dari penyakit ini.

Tak hanya penyakit jantung, gagal ginjal juga menjadi penyakit kedua yang paling sering dialami masyarakat. Menurut Menkes Nila, dua penyakit inilah yang paling banyak menguras dana BPJS karena pasien harus menjalani hemodialisa untuk memperpanjang masa hidupnya.

“Penyakit jantung dan stroke masih yang tertinggi, kemudian gagal ginjal. Hampir semua dana BPJS habis untuk mengobati penyakit ini. Selain itu diabetes, hipertensi dan beberapa penyakit menular ikut meningkat,” lanjut Menkes Nila.

Mahalnya biaya pengobatan penyakit jantung membuat beberapa orang tergantung dengan BPJS. Namun, beberapa masyarakat yang tak bertanggung jawab hanya mengambil untung sesaat dengan adanya program pemerintah ini. Mereka hanya membayar iuran saat pengobatan, namun setelah selesai, maka ia tak lagi menunaikan kewajibannya.

“Orang kaya kalau sudah sakit jantung kan mahal. Karena mahal biasanya baru ikut BPJS. Tapi jika sudah selesai pengobatan, mereka berhenti dan tidak ikut lagi. Kasihan BPJS-nya. BPJS harus tetap berjalan, jadi kita harus perbaiki siapa yang bayar dan siapa yang disubsidi,” tutupnya.

Editor: Azhar

judul gambarjudul gambar

Pos terkait