Cinta SBY dan Ani Yudhoyono- Dari Pandangan Pertama hingga Ajal Memisah

judul gambar

MANIFESTO.com, JAKARTA- Keluarga besar Yudhoyono berduka atas meninggalnya seorang istri, ibu, dan nenek. Perempuan bernama Kristiani Herrawati meninggal di Singapura, pada Sabtu (1/6) pukul 11.50 waktu setempat.

Duka mendalam dirasakan oleh sang suami, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketum Partai Demokrat itu kehilangan belahan jiwanya. Selama ini, Kristiani Herrawati atau yang kerap disapa Ibu Ani Yudhoyono itu memang selalu mesra mendampingi SBY dalam berbagai kegiatan.

Bacaan Lainnya

Perempuan kelahiran Yogyakarta, 6 Juli 1952 itu dipersunting SBY pada 1975. Dalam buku biografi Ani Yudhoyono berjudul ‘Kepak Sayap Putri Prajurit’ yang ditulis Alberthiene Endah, kisah cinta Ani dan SBY bermula pada 1973.

Pada awal 1973 Ani yang tengah berlibur kuliah mendampingi sang ayah, Sarwo Edhi Wibowo –yang saat itu menjabat Gubernur AKABRI– dalam acara peresmian barak di Balai Taruna di Magelang.

Saat itu, Ani terpesona dengan sosok laki-laki gagah dan bertubuh jangkung. Esoknya, pemuda itu menemui Sarwo Edhi di rumah dinas. Ani dengan malu-malu mengintip pertemuan sang ayah dengan pemuda yang ia ketahui bernama Susilo Bambang Yudhoyono.

“Tidak bisa dipungkiri, aku dan SBY jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak tahu siapa yang dulu suka, yang pasti sejak pertemuan di Magelang, surat-surat SBY mengalir deras, di antaranya dia menyatakan cinta,” terang Ani.

Hingga akhirnya, Ani dan SBY berpacaran. Namun keduanya menjalin Long Distance Relationship alias LDR. Meski demikian, keduanya rajin berkirim surat. Bahkan, Ani selalu tak sabar menunggu kedatangan tukang pos yang mengantar surat cinta dari SBY.

Ungkapan cinta SBY selalu dituangkan dalam puisi. Puisi-puisi cinta itu yang selalu membuat Ani melayang. Ungakapan cinta SBY yang paling bermakna bagi Ani adalah puisi berjudul ‘Flamboyan’. Puisi mengungkapkan perasaan prajurit yang tersentuh bunga Flamboyan yang tumbuh di kampus.

Selain itu, SBY kerap memanggil Ani dengan panggilan sayang ‘Jeng Ani’. Ani pun selalu tersipu malu mendengar panggilan itu. Menurutnya, panggilan itu sangat personal dan mesra.

Ayah Ani, Sarwo Edhi Wibowo, pun mengetahui asmara putrinya itu dengan salah satu prajurit terbaiknya. Namun sayangnya pada 1974, Sarwo Edhi harus mengemban tugas menjadi duta besar Korea Selatan. Saat itu, hati Ani bergemuruh karena harus berpisah dengan sang pujaan hati.

Sarwo Edhi pun menangkap sinyal kegelisahan Ani. Ia pun menyarankan putrinya itu untuk segera bertunangan dengan Bambang –panggilan akrab Sarwo Edi ke SBY.

Ani pun dibuat gembira atas usulan sang Papi. Segera mungkin Ani mengabarkan rencana itu ke SBY. SBY pun merespons positif usulan calon mertuanya.

Saat SBY diwisuda menjadi perwira terbaik AKABRI 1973, keluarga Yudhoyono menyampaikan maksud meminang Ani ke Sarwo Edhi. Sarwo Edhi pun menyetujuinya. Proses lamaran pun digelar di Cijantung, Jakarta, dengan kondisi yang seadanya.

Ani dibuat menangis antara bahagia –akhirnya cintanya dengan SBY dapat dipersatukan– dan sedih –berpisah sementara dengan SBY–.

1,5 tahun berlalu hingga akhirnya SBY dengan mantap ingin meminang Ani. SBY pun mengirim surat ke Sarwo Edhi, mengaku sudah berpenghasilan cukup dan siap menikahi Ani. Sang calon mertua hanya bisa menangis haru membaca surat dari calon menantunya itu.

Akhir Juli 1975, Ani resmi dipersunting SBY. Ani menikah bersama dengan dua adik perempuannya, Wrahasti Cendrawasih (Titiek) dan Mastuti Rahayu (Tuti). Keluarga Sarwo Edhi menikahkan sekaligus tiga putrinya dengan pasangannya masing-masing.

“Menyaksikan orang tua kami tertawa lebar di antara tamu terlihat ceria mendatangkan rasa haru. Jemariku menggenggam erat lengan SBY, mataku memandang sosok tinggi, gagah di sampingku. Sekarang aku telah menjadi istrinya, aku sangat bahagia,” ungkap Ani.

Keluarga kecil SBY dan Ani semakin lengkap saat lahir dua buah cinta mereka, Agus Hari Murti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono. Ani selalu berada di sisi SBY baik saat ditugaskan ke luar negeri hingga akhirnya SBY menjadi Presiden ke-6 RI pada 2004.

Menjadi Ibu Negara sekaligus istri, membuat Ani harus harus selalu di sisi SBY. Ani selalu mengabadikan momen kunjungan kenegaraan dan kesehariannya melalui lensa kamera.

Ani memang menyukai fotografi. Kehidupan Ani dan SBY semakin lengkap atas kehadiran cucu-cucu mereka.

Meski sudah tak muda lagi, namun cinta Ani Yudhoyono dan SBY masih sangat terlihat. Dalam berbagai konsolidasi politik ke sejumlah daerah saat Pemilu 2019, Ani selalu mendampingi SBY.

Sementara, SBY selalu setia berada di samping Ani saat menjalani perawatan intensif di Singapura. Sejatinya, pasangan suami-istri harus saling mengasihi dan menyayangi seperti cinta sejati Ani dan SBY.

Sumber: Kumparan

judul gambarjudul gambar

Pos terkait