Covid 19 Terus Tebar Ancaman, Nilai Tukar Rupiah Kian Anjlok

judul gambar

MANIFESTO, JAKARTA– Virus Corona atau Covid 19 terus menebar ancaman di Indonesia. Sampai hari Ahad 22 Maret kemarin terdapat 514 yang dinyatakan positif terinfeksi Covid 19 dan 48 orang yang dinyatakan meninggal dunia.

Wabah Covid 19 yang telah ditingkatkan menjadi bencana nasonal pun semakin menekan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah hari ini tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan nilai kurs rupiah saat ini mendekati posisi terendahnya pada krisis 1998. Pada Juni 1998, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada titik terendahnya di level Rp16.950.

Bacaan Lainnya

Mengutip data Financial Times, Senin (23/3), nilai tukar rupiah hari ini pada pukul 10.00 WIB bergerak tertekan di Rp 16.550,00 terhadap dollar AS  atau melemah 650,00 poin (4,09 persen). Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) berada di posisi Rp 16.608 pada posisi 23 Maret 2020.

Sementara itu, dalam transaksi konvensional di perbankan tanah air, sudah ada yang menjual dolar AS di posisi Rp 16.900.

Lantas seberapa kuat sektor keuangan seperti perbankan di Indonesia menghadapi pelemahan mata uang rupiah? Apalagi menurut catatan Bank Indonesia (BI), total utang luar negeri sektor perbankan Tanah Air mencapai USD 35,196 miliar pada 2019.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah melakukan uji ketahanan atau stress test pada perbankan. Stress test dilakukan pada tahun 2018. Salah satunya terkait nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di level Rp 20.000. Hasilnya, industri perbankan masih kuat ketika diuji hingga kurs rupiah terhadap dolar AS di level Rp20.000.

Selain itu, perbankan tersebut tetap menunjukkan permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang cukup kuat walaupun dilakukan dengan berbagai macam metodologi.

Stress test ini permodalan perbankan relatif tinggi dengan negara lain. Stress test kita cara metodologi tetap kuat 22 persen dengan berbagai skenario. Nilai tukar berapa pun enggak berdampak ke permodalan perbankan,” ujar Wimboh di Gedung BI, Jakarta dkutip dari Kumparan.com, Senin (30/4/2018).

Ketua OJK Wimboh Santoso di acara pembukaan perdagangan saham awal tahun 2020 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (2/1). Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Dia juga menjelaskan, OJK juga melakukan stress test terkait surat berharga perbankan jika imbal hasil atau yield naik tinggi dan surat berharga turun. Menurutnya, hal ini tak berdampak signifikan ke surat berharga perbankan.

“Likuiditas aman bahkan overliquid. Ini mendukung pertumbuhan kredit hingga 20 persen, ini pertumbuhan kredit bisa 15-20 persen. Selanjutnya stress test surat berharga yield naik, surat utang turun, ternyata yield enggak masalah,” kata Wimboh.

Editor: Azhar

judul gambarjudul gambar

Pos terkait