Januari-Oktober 2022, Ekspor Pertanian Sulsel Capai Rp1,69 Triliun

Ekspor komoditas pertanian Sulsel mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu. Foto/Istimewa
judul gambar

MANIFESTO, MAKASSAR – Ekspor komoditas pertanian Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencapai Rp1,69 triliun periode Januari-Oktober 2022. Nominal itu lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp1,5 triliun. Tanaman porang menjadi komoditas primadona untuk ekspor pada tahun ini.

Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Makassar, Lutfie Natsir, mengungkapkan volume ekspor komoditas pertanian Sulsel menembus angka 173.402 ton dalam 10 bulan terakhir. Frekuensinya mencapai 1.477 kali dan diprediksi terus meningkat lantaran masih ada dua bulan berjalan pada tahun ini.

Bacaan Lainnya

“Yang tercatat ini direct export (ekspor langsung) dari sini, tidak dihitung yang antar-wilayah dulu semisal ke Surabaya baru ke luar negeri. Jadi, sebenarnya nilai komoditas pertanian Sulsel yang diekspor bisa lebih dari ini (Rp1,69 triliun),” kata Lutfie, saat merilis kinerja Karantina Pertanian Makassar di salah satu kafe di Kota Makassar, belum lama ini.

Berdasarkan data Karantina Pertanian Makassar, ekspor pertanian Sulsel terbagi atas tiga kategori yakni hortikultura, pangan dan perkebunan. Ekspor holtikultura seperti mengkudu, kelor dan akar tunjuk langit mencapai Rp0,32 miliar. Volume barang 8,8 ton dengan frekuensi sebanyak 21 kali.

Selanjutnya, ekspor pangan semisal porang, gandum, dedak gandum dan talas mencapai Rp331 miliar. Volume barang 84.136 ton dengan frekuensi sebanyak 80 kali. Adapun ekspor perkebunan seperti kakao dan turunannya, kopi dan turunannya serta ampas sawit menembus Rp1,3 triliun. Volume barang 27.212 ton dengan frekuensi sebanyak 575 kali.

“Yang paling besar memang perkebunan, dibandingkan pangan dan hortikultura. Tapi untuk pangan seperti porang terjadi peningkatan signifikan pada tahun ini, bahkan belum pernah ada pencapaian seperti ini,” tutur mantan Kepala Inspektorat Provinsi Sulsel ini.

Masih merujuk data, volume ekspor porang Sulsel rentang Januari-November 2022 sudah menembus angka 1.708 ton. Jauh lebih tinggi dibandingkan pencapaian paling tidak tiga tahun terakhir, masing-masing yakni 727 ton pada 2019, 930 ton pada 2020 dan 609 ton pada 2021.

Guna mengakselerasi ekspor porang dan komoditas pertanian unggulan lain, Lutfie menyebut pihaknya melakukan pendampingan Gratieks atau Gerakan Tiga Kali Ekspor Pertanian. Dilakukan pula sosialisasi dan edukasi ke kelompok tani di daerah. Selain itu, pihaknya melakukan klasterisasi potensi daerah serta mendekatkan eksportir dengan kelompok tani melalui kerja sama.

“Kami terus melakukan pendampingan untuk menyukseskan Gratieks. Kami sudah klasterisasi daerah soal potensi ekspornya, semisal Sinjai itu porang dan kopi, Gowa ada porang dan cengkeh, lalu Bulukumba itu ada manggis dan Soppeng itu dried cocoon,” tuturnya.

Anggota Komisi IV DPR RI, Azikin Solthan, sebelumnya mengapresiasi upaya Karantina Pertanian Makassar dalam mendorong ekspor pertanian di Sulsel. Salah satunya melalui bimbingan teknis atau bimtek yang dapat menambah pengetahuan baru bagi para petani, sekaligus menghubungkannya dengan pelaku ekspor melalui kerja sama.

“Saya sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Karantina Pertanian Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada para petani dan peternak di Bantaeng untuk terus menambah ilmu mereka. Agar nantinya sektor pertanian di Sulsel khususnya Bantaeng dapat meningkat pesat,” ujarnya.

Editor: Azhar

judul gambar

Pos terkait