Komnas HAM Desak Penganiaya Dosen UMI Saat Demonstrasi Diungkap

  • Whatsapp
Dosen UMI, AM terlihat penuh luka dan memar usai menjadi korban salah tangkap saat aksi unjuk rasa, Kamis 8 Oktober 2020. (Ist)
Dosen UMI, AM terlihat penuh luka dan memar usai menjadi korban salah tangkap saat aksi unjuk rasa, Kamis 8 Oktober 2020. (Ist)

MANIFESTO, MAKASSAR – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI turun tangan menyikapi penganiayaan dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar berinisial AM (27 tahun). Komnas HAM pun mendesak Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan untuk mengusut kasus yang mengakibatkan dosen muda itu babak belur dan dipenuhi luka.   

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Ibrahim Tompo mengatakan surat dari Komnas HAM RI nomor 1142/K-PMT/X/2020 tanggal 15 Oktober 2020 yang ditujukan langsung kepada Kapolda Sulsel Inspektur Jendral Polisi Merdisyam tersebut terkait soal permintaan keterangan dan tindak lanjut dugaan kekerasan yang dialami oleh AM setelah menjadi korban salah tangkap.

Bacaan Lainnya

“Kita semua mempunyai pendapat yang sama tentang upaya untuk menegakkan hukum terhadap pelaku penganiayaan. Namun kita juga tidak boleh mendiskreditkan tentang siapa pelaku sebelum bisa dibuktikan siapa pelakunya,” kata Ibrahim, Sabtu 17 Oktober 2020.

Ibrahim mengaku, Polda Sulsel telah memeriksa beberapa orang saksi terkait kasus penganiayaan yang menimpah dosen Fakultas Hukum UMI Makassar itu. Ia berharap kasus ini bisa terungkap dalam waktu yang tak terlalu lama.

“Saat ini kita sudah mengumpulkan bukti dua pendukung dan pemeriksaan saksi-saksi,” kata Ibrahim.

Ia pun meminta agar tidak ada opini yang terbangun sebelum diketahui secara pasti terkait siapa pelaku sebenarnya yang telah menganiaya AM saat pengamanan aksi unjuk rasa penolakan Undang-Undang Cipta Kerja Omnibus Law di sekitar Kantor Gubernur Sulsel, Kamis 8 Oktober 2020.

“Biarkanlah dulu proses berjalan, kita tunggu hasil penyelidikan,” kata Ibrahim.

Dalam penanganan kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh beberapa oknum polisi terhadap AM, kata Ibrahim, Polda Sulsel akan bekerja secara maksimal melakukan penyelidikan untuk mengungkap siapa pelaku. “Kita akan maksimal untuk melaksanakan penyelidikan dan mendalami kejadian ini agar semuanya bisa menjadi jelas,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, AM menjadi korban salah tangkap saat terjadi aksi demosntrasi menolak UU Cipta Kerja di Makassar, Kamis 8 Oktober 2020. AM ditangkap saat polisi melakukan penyisiran dan pembubaran mahasiswa yang terlibat unjuk rasa. Korban yang juga berada di jalan Urip Sumiharjo ikut ditangkap, meski sudah menyebutkan identitasnya sebagai dosen di perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur itu.

AM menjelaskan kronologi kejadian itu berawal saat dirinya berada di depan salah satu minimarket di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar. Ia berada di lokasi itu hendak menuju ke tempat print yang berada di depan Kampus Universitas Bosowa.

Tapi karena kondisi unjuk rasa saat itu memanas, korban pun terjebak. Tiba-tiba polisi datang dan menangkap semua yang diduga terlibat dalam aksi unjuk rasa itu. Polisi yang melihatnya berada di dekat minimarket langsung menarik dan menyeret korban hingga beberapa kali jatuh akibat pukulan yang dilayangkan oleh oknum polisi. Meski sempat mengeluarkan identitas dan mengatakan seorang dosen.

Akibat penangkapan dan pemukulan itu, korban mengalami memar dan luka di bagian kelopak mata bagian kiri, bengkak pada kepala bagian kanan, luka pada hidung, memar pada paha sebelah kanan, tangan kiri kanan luka, punggung sebelah kanan terluka, dan memar pada jidad.

Editor: Azhar