Pasca Diperiksa 14 Jam, Joko Driyono Langsung Dibui

judul gambar

MANIFESTO.com, JAKARTA – Joko Driyono keluar dari ruang Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya sekitar pukul 00.14 Selasa dini hari, (26/3) dengan mengenakan rompi kuning bertuliskan tahanan. Mantan Pelaksana Tugas Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) kemudian langsung masuk Rumah Tahanan Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

Jokdri sapaan akrabnya diperiksa polisi mulai pukul 10.00 WIB, Senin, (25/3) terkait kasus mafia sepakbola dan pengrusakan barang bukti. Ketika keluar dari ruang pemeriksaan, Jokdri dikawal dua polisi yang menggunakan rompi hitam dan beberapa polisi mengikuti di belakang.

Bacaan Lainnya

Saat dicegat awak media dan diberonong beberapa pertanyaan, CEO PT Liga Indonesia tahun 2013 ini memilih bungkam dan berjalan cepat menuju ruang tahanan. “Tolong, ya, kasih jalan,” kata petugas kepolisian yang mendampingi.

Sebelumnya, Satuan Tugas Antimafia Bola Polri mengatakan resmi menahan Joko Driyono. “Saudara JD diperiksa tadi pukul 10.00 WIB, lalu kami gelar perkara sekitar pukul 14.00 WIB, setelah itu kami lakukan penahanan terhadap yang bersangkutan,” ujar Kepala Satgas Antimafia Bola Polri Brigadir Jenderal Hendro Pandowo di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, pada Senin, 25 Maret 2019.

Joko Driyono, kata Hendro, akan ditahan selama 20 hari sejak hari ini, 25 Maret 2019 hingga 13 April 2019 mendatang. Sebelumnya, dia sudah ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana pencurian dengan pemberatan dan atau memasuki dengan cara membongkar, merusak, atau menghancurkan barang bukti yang telah dipasang garis polisi oleh penguasaan umum di kantor Komisi Disiplin PSSI, sejak 14 Februari 2019 lalu.

Joko Driyono diduga sengaja merusak sejumlah dokumen yang berkaitan dengan beberapa peristiwa yang saat ini sedang diinvestigasi oleh Satgas Antimafia Bola Polri. Dia dikenakan pasal 363 KUHP terkait pencurian dan pemberatan, kemudian pasal 232 KUHP tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan. Lalu pasal 233 KUHP tentang perusakan barang bukti dan yang terakhir adalah pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di pasal 232 KUHP dan 233 KUHP.

Polri telah menjelaskan kronologi penetapan Joko Driyono sebagai tersangka berawal dari ditetapkannya terlebih dahulu tiga tersangka yakni Muhammad Mardani alias Dani sopir Joko Driyono, Musmuliadi alias Mus seorang pesuruh di PT Persija dan Abdul Gofar pesuruh di PSSI.

Ketiganya ditetapkan tersangka dalam kasus perusakan dokumen barang bukti yang oleh penyidik dianggap dokumen penting untuk mengungkap kasus pengaturan skor. Mereka diduga ditugaskan oleh Joko Driyono untuk memusnahkan barang bukti itu.

judul gambarjudul gambar

Pos terkait