Pencegahan dan Penurunan Stunting Terintegrasi di Sulsel, Takalar Paling Inspiratif

  • Whatsapp
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah bersama Bupati Takalar Syamsari Kitta berbincang terkait strategi penurunan angka stunting beberapa waktu lalu. (Ist)
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah bersama Bupati Takalar Syamsari Kitta berbincang terkait strategi penurunan angka stunting beberapa waktu lalu. (Ist)

MANIFESTO, MAKASSAR– Pemerintah Provinsi Sulsel mengumumkan kinerja pemerintah kabupaten dalam pencegahan dan penurunan stunting teringrasi, Senin 19 Oktober 2020. Kinerja pemerintah daerah diumumkan lewat surat keputusan bernomor 2342/X/2020.

Hasilnya, Takalar keluar sebagai daerah berkinerja terbaik dalam penanganan stunting. Terbukti dengan mendapatkan semua kategori penghargaan berdasarkan penilaian evaluasi kinerja konvergensi stunting yang berlangsung selama 6-9 Oktober di Hotel Four Point, Sheraton, Makassar.

Bacaan Lainnya

Di antaraya, Takalar dan Bone ditetapkan sebagai daerah paling inspiratif dalam menekan angka stunting di Sulsel. Sementara, Sinjai ditetapkan sebagai daerah paling replikatif, sedang Pinrang menyabet daerah paling inovatif.

Untuk lokus pelaksanaan konvergensi intervensi penurunan stunting terintegrasi, Takalar dan Gowa kembali berada di rangking teratas. Untuk kategori stand pameran lokus pelaksanaan konvergensi intervensi penurunan stunting terintegrasi, Pinrang menempati urutan pertama, Takalar kedua, dan Enrekang di urutan ketiga.   

Atas hasil itu, Bupati Takalar Syamsari Kitta mengatakan, bersyukur atas hasil pencapaian dan penghargaan yang diberikan oleh Pemprov dalam penurunan angka stunting di Sulsel. Menurutnya, selama ini di bawah pemerintahnnya sangat dan serius fokus dalam menangani penyakit stunting.

 “Persoalan stunting sejak awal kita sikapi secara serius, kita lakukan intervensi lewat kebijakan dari desa hingga kabupaten, instansi vertical, ormas, dan perguruan tinggi, kita siapkan anggaran lewat dana DAK dan APBD. Ini sebagai intervensi agar anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang sehat,” kata Syamsari.

Ia mengaku, telah melibatkan lintas sektor untuk bersama- sama bekerja demi menekan angka stunting di Takalar.  Saat ini, Pemkab Takalar juga telah bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Unhas untuk menangani penyakit yang mengancam generasi itu.  

“Kita juga telah menawarkan kepada pihak Universitas Hasanuddin untuk perjanjian kerjasama antara Pemkab Takalar dengan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat untuk penanganan stunting,” kata Bupati yang telah berhasil menggagas kawasan industri di Takalar itu.

Kepala Dinas Kesehatan Takalar dr Rahmawati mengaku, prestasi ini bisa diraih atas arahan dan komitmen yang kuat dari Bupati Takalar dan Ketua Tim Penggerak PKK. Apalagi dengan inovasi menjadikan Tim Penggerak PKK di kecamatan menjadi duta stunting dinilai sebagai terobosan dalam penanganan penyakit yang menyerang balita itu.   

“Banyak inovasi yang memang kita lakukan dalam penanganan stunting, seperti tetta siaga,  wisata polut, dengan inovasi tersebut membuat takalar menjadi kabupaten yang inspiratif,” kata Rahmawati.

Rahma mengatakan, pihaknya mengikutsertakan enam puskesmas (PKM) lokus stunting dalam penilaian Pemprov itu. Di antaranya, PKM Polut, PKM Pattallassang, PKM Bontomarannu, PKM Bulukunyi, PKM Galesong, dan PKM Ko’mara. Setiap puskesmas menampilkan inovasi yang dilakukan dalam penanganan stunting, misalnya pendekar togammara PKM Polut dengan minuman herbal anti stunting-nya dan  inovasi duta stunting TP PKK Takalar.

Sekadar diketahui jika penilaian dan pameran ini diikuti oleh 11 daerah di Sulsel yang menjadi lokus penanganan stunting. Di antaranya, Enrekang, Bone, Sinjai, Gowa, Takalar, Jeneponto, Pangkep, Pinrang, Tana Toraja, Toraja Utara, dan Selayar. Kegiatan yang digelar Pemprov  Sulsel untuk mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam penanganan stunting terintegrasi.

Editor: Azhar