Perempuan Sulsel Motor Penggerak Ekonomi dari Akar Rumput: Membedah Ketangguhan UMKM Perempuan dalam Menopang Ekonomi Regional

UMKM perempuan penopang ekonomi regional di Sulsel. (Int)

## Sulawesi Selatan bukan hanya tentang lumbung pangan nasional, tapi juga tentang jutaan tangan kreatif perempuan yang bergerak di sektor UMKM. Dari pesisir hingga pegunungan, perempuan Sulsel kini menjadi aktor utama dalam struktur ekonomi mikro.

Tulisan ini akan mengeksplorasi bagaimana pemberdayaan perempuan melalui usaha kecil bukan sekadar isu sosial, melainkan strategi ekonomi yang terbukti tahan banting menghadapi guncangan pasar.

Di Sulsel, UMKM perempuan hadir sebagai solusi atas terbatasnya lapangan kerja formal. Mereka mengubah komoditas lokal, Seperti sutra, kopi, hingga olahan laut menjadi produk bernilai tambah yang mampu menembus pasar nasional.

Bacaan Lainnya

Secara sosiologis, perempuan cenderung menginvestasikan kembali 90% dari pendapatannya untuk keluarga (pendidikan, kesehatan, dan gizi anak). Artinya, memberdayakan satu perempuan pengusaha di Sulsel sama dengan menyelamatkan satu generasi dari kemiskinan dan stunting. perempuan adalah akses.

Jika perempuan diberi akses yang sama terhadap modal dan teknologi, produktivitas ekonomi daerah akan meningkat secara signifikan.

Dalam konteks Sulawesi Selatan, pemberdayaan perempuan tidak bisa dilepaskan dari falsafah budaya. Penjelasan ini penting untuk meyakinkan pembaca bahwa menjadi pengusaha tidak membuat perempuan kehilangan identitas budayanya. Siri’ (Harga Diri): Menjadi pelaku UMKM yang mandiri adalah bentuk menjaga Siri’ keluarga.

Dengan memiliki penghasilan sendiri, seorang perempuan memastikan keluarganya tidak hidup dalam ketergantungan atau meminta-minta, yang dalam budaya Bugis-Makassar adalah hal yang sangat dijunjung tinggi. Pacce (Empati/Solidaritas): Karakteristik UMKM perempuan di Sulsel sangat kental dengan nilai Pacce.

Mereka cenderung membentuk kelompok usaha bersama (KUBE) daripada bergerak sendiri. Inilah yang menciptakan Social Safety Net (jaring pengaman sosial) di tingkat desa.Di Sulsel, platform seperti WhatsApp dan Facebook Marketplace menjadi pintu masuk utama.

Penjelasan ini harus menekankan bahwa digitalisasi bagi perempuan bukan hanya soal teknis, melainkan soal perluasan ruang gerak. Perempuan yang terbatas mobilitasnya karena mengurus anak tetap bisa menjadi “CEO” dari rumah mereka sendiri.

Pemberdayaan UMKM perempuan di Sulawesi Selatan kini menghadapi persimpangan jalan: tetap pada cara konvensional atau melompat ke ekosistem digital. Literasi digital bukan lagi sekadar tren, melainkan instrumen bertahan hidup (survival kit) bagi UMKM.Di era social commerce, perempuan Sulsel memiliki keunggulan komparatif. Karakteristik perempuan yang cenderung komunikatif dan memiliki jejaring sosial yang luas membuat mereka lebih mudah beradaptasi dengan platform pemasaran digital.

Namun, transformasi ini memerlukan peta jalan yang jelas.
Konstruksi Sosial dan Kemandirian Finansial ,Di tengah struktur masyarakat Sulawesi Selatan yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai patriarki, kehadiran perempuan dalam sektor UMKM menjadi instrumen rekonstruksi sosial yang paling efektif.

Kemandirian finansial yang diraih oleh ibu rumah tangga melalui usaha mikro bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan pernyataan kedaulatan diri. Ketika seorang perempuan mampu menghasilkan pendapatan sendiri, ia secara otomatis meningkatkan posisi tawarnya dalam pengambilan keputusan rumah tangga, mulai dari urusan konsumsi hingga investasi pendidikan jangka panjang bagi anak-anaknya.

Sejarah mencatat bahwa setiap kali krisis ekonomi melanda, sektor UMKM yang didominasi perempuan selalu menjadi garda terdepan yang paling tangguh. Hal ini dikarenakan perempuan cenderung memiliki sifat risk-averse atau lebih berhati-hati dalam pengelolaan risiko keuangan.

Di Sulsel, para ibu pengusaha UMKM dikenal sangat lihai dalam melakukan diversifikasi produk sesuai dengan kebutuhan pasar yang fluktuatif. Ketahanan ini menjadikan mereka sebagai stabilisator ekonomi regional yang mampu menjaga daya beli masyarakat di tingkat akar rumput tetap terjaga.

Tantangan geografis di Sulawesi Selatan yang luas kini bukan lagi penghalang utama berkat adanya transformasi digital. Bagi perempuan, teknologi informasi adalah jembatan yang menghubungkan ruang domestik (dapur dan rumah) dengan pasar global. Dengan modal ponsel pintar, seorang ibu di pedesaan Bantaeng atau pelosok Bone dapat memasarkan produk unggulannya ke Jakarta atau bahkan mancanegara tanpa harus meninggalkan perannya dalam mengasuh anak.

Digitalisasi memberikan kebebasan mobilitas yang selama ini menjadi kendala utama perempuan dalam meniti karier profesional.

Memutus Rantai Kemiskinan Antargenerasi

Pemberdayaan perempuan melalui UMKM memiliki efek domino terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Ada korelasi positif antara pendapatan ibu dengan tingkat kesehatan dan kecerdasan anak. Di Sulawesi Selatan, pendapatan dari UMKM sering kali dialokasikan khusus untuk biaya sekolah dan perbaikan gizi keluarga.

Secara tidak langsung, setiap rupiah yang dihasilkan oleh tangan perempuan pengusaha adalah investasi untuk mencetak generasi unggul yang bebas dari stunting dan putus sekolah, sekaligus menjadi solusi sistemik untuk menghentikan laju pernikahan dini.

Salah satu kekuatan unik UMKM perempuan di Sulsel adalah kuatnya modal sosial yang berbasis pada kekeluargaan dan solidaritas. Berbeda dengan korporasi besar yang kompetitif, UMKM perempuan cenderung bergerak secara kolektif melalui kelompok-kelompok usaha bersama. Mereka saling berbagi pengetahuan tentang cara pengemasan produk, akses modal, hingga informasi pasar.

Semangat gotong royong ini menciptakan jaring pengaman sosial yang memastikan tidak ada pelaku usaha kecil yang tertinggal sendirian saat menghadapi kendala manajerial maupun permodalan.

Harapan pada Ekosistem Kebijakan Inklusif Menutup narasi panjang ini, masa depan ekonomi Sulawesi Selatan sangat bergantung pada seberapa serius pemerintah daerah menciptakan ekosistem kebijakan yang inklusif bagi perempuan. Perlindungan hukum, kemudahan sertifikasi produk, hingga penyediaan ruang pameran yang representatif harus menjadi prioritas.

Jika perempuan diberikan panggung yang setara dan dukungan yang nyata, mereka bukan hanya akan menjadi motor penggerak ekonomi, tetapi juga akan menjadi jangkar yang menjaga nilai-nilai luhur dan martabat masyarakat Sulawesi Selatan di tengah arus globalisasi yang kian kencang.

Oleh : Nurul Aliah Alwy-Dosen Unpas Bantaeng

Pos terkait