TAKALAR – Takalar mencatatkan diri sebagai kabupaten pertama di Sulawesi Selatan yang akan memiliki Sekolah Rakyat permanen. Keputusan itu lahir setelah Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Sosial RI di Jakarta.
Langkah itu kini masuk tahap lapangan. Rabu, 13 Mei 2026, tim gabungan Pemkab Takalar, Kecamatan Pattallassang, dan Kemensos mulai menyisir rumah-rumah untuk mendata anak usia sekolah dari keluarga paling rentan.
Sasarannya: 2.000 anak SD, SMP, dan SMA yang masuk Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN. Mereka adalah kelompok yang selama ini paling sulit menjangkau sekolah layak.
Prosesnya tidak lewat meja. Lurah, kepala lingkungan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas turun langsung. Tujuannya satu: memastikan nama yang masuk daftar benar-benar sesuai kondisi di lapangan.
“Verifikasi langsung kami lakukan agar 2.000 anak dari keluarga rentan benar-benar mendapat kesempatan mengakses pendidikan melalui Sekolah Rakyat,” ujar Muh Sahir, Ketua Tim Kabupaten dari Direktorat Perlindungan dan Jaminan Sosial Non Kebencanaan Kemensos RI.
Saat ini, Sekolah Rakyat Takalar masih menumpang di SKB Kabupaten dengan 72 siswa. Sekolah permanen yang akan dibangun di Kecamatan Pattallassang diharapkan jadi rumah belajar tetap yang layak.
Camat Pattallassang, Bansuhari Said, menyebut ini pencapaian besar.
“Ini kebanggaan Takalar. Berkat perjuangan Bupati Daeng Manye, kami jadi satu-satunya daerah di Sulsel yang dapat Sekolah Rakyat permanen,” katanya.
Program ini juga nyambung dengan inovasi lokal `Pak Sewang` di Pattallassang. Inovasinya sederhana: memastikan layanan sosial dan pendidikan benar-benar menyentuh masyarakat rentan, agar tidak ada anak yang tertinggal.
“Program Sekolah Rakyat sejalan dengan semangat Pak Sewang. Kami terus dorong kolaborasi lintas sektor untuk itu,” tegas Bansuhari.
Editor: Azhar


