PLTB di Sidrap dan Jeneponto Belum Bisa Diandalkan Atasi Pemadaman Bergilir

PLTB Jeneponto. (Int)
PLTB Jeneponto. (Int)
judul gambar

MANIFESTO, MAKASSAR – GM PLN Sulselrabar
Moch Andy Adchaminoerdin menyebut, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di dua kabupaten Sidrap dan Jeneponto, ternyata tidak bisa diandalkan dalam menangani pemadaman bergilir 3-4 Jam per hari yang terjadi di Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan sekitarnya.

Dijelaskan bahwa, PTLB hanya bisa memproduksi listrik ketika ada angin yang bisa memutar baling-baling PLTB. Selain itu pembangkit listrik ramah lingkungan itu tidak dilengkapi dengan baterai atau tempat penyimpanan listrik.

Bacaan Lainnya

“PLTB kalau ada angin bisa memproduksi, kalau tidak ada angin tidak bisa apa-apa,” ungkapnya, ditemui usai mengikuti RDP bersama Komisi D DPRD Sulsel, Kamis 30 November 2023.

PLTB yang seharusnya bisa mengatasi masalah pemadaman listrik di Sulsel, ternyata tidak bisa berbuat banyak.

Padahal PLTB di Sidrap dan Jeneponto jika beroperasi secara maksimal mampu memproduksi listrik mencapai 140 megawatt (MW).

PLN Sulselrabar saat ini hanya bisa mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang ada di Poso. Itupun belum bisa beroperasi secara maksimal karena masih kekurangan debit air.

“Satu-satunya yang bisa diandalkan yaitu, PLTA Poso yang sebelumnya bisa menghasilkan 515 MW, namun saat ini hanya bisa memasok 200 MW karena debit air masih kurang,” paparnya.

Dalam mengatasi pemadaman bergilir PLN Sulselbar akan berupaya untuk melakukan pengadaan pembangkit listrik diesel yang menggunakan BBM. Selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di beberapa daerah di Sulsel diminta untuk tidak berhenti beroperasi.

“Itu cuma dalam waktu singkat saja, begitu hujan terus dan debit air banyak, Insyaallah akan normal kembali,” pungkasnya.

Pasokan listrik di Sulsel hingga kini belum stabil atau masih berkurang dari beban puncak penggunaan listrik. Hal itu diakibatkan cuaca ekstrim El Nino atau kemarau panjang, sehingga mengakibatkan PLTA di beberapa wilayah tidak bisa beroperasi karena kekurangan debit air.

Berdasarkan data, sebelum terjadi El Nino, produksi listrik mencapai 2300 Megawatt (MW) dari berbagai pembangkit listrik di wilayah Sulselrabar, sedangkan beban puncak mencapai 1800 MW atau surplus 500 MW.

Dengan terjadinya kemarau panjang, mengakibatkan produksi listrik dari sejumlah pembangkit listrik mengalami penurunan produksi secara drastis. PLN hanya mampu mengelola listrik 250 MW, dengan jumlah itu, PLN melakukan pemadaman bergilir 3-5 jam per hari.

Editor: Azhar

judul gambarjudul gambar

Pos terkait