Terinspirasi dari Putri Nabi, RS Galut Dinamakan RSIA Zainab

  • Whatsapp
Bupati Takalar Syamsari Kitta memberikan nama RS di Galesong Utara RSIA Zainab, Senin 22 Juni 2020. (Ist)
Bupati Takalar Syamsari Kitta memberikan nama RS di Galesong Utara RSIA Zainab, Senin 22 Juni 2020. (Ist)

MANIFESTO, TAKALAR- Bupati Takalar Syamsari Kitta memberikan nama Zainab untuk Rumah Sakit Ibu dan Anak(RSIA) di kelurahan Bontolebang, Galesong Utara.  Sementara RS Tipe D di Palleko, Polongbangkeng Utara dinamakan RS Pratama.

Nama Zaenab terispirasi dari putri Nabi Muhammad yang dikenal sabar dan tabah.  Syamsari pun mengharapkan tenaga kesehatan dan tenaga medis di RSIA bisa mengikuti keteladanan putri Rasulullah itu.    

Bacaan Lainnya

Lantas siapakah Zainab, putri Rasulullah itu?   

Zainab, putri Nabi Muhammad dari istri pertama, Siti Khadijah binti Khuwailid. Zainab memberi Nabi dua cucu yakni Ali dan dan Umamah.

Mengutip laman Islami.co, Zainab menikah dengan Abu al-Ash bin Rabi, putra Halah adiknya Khadijah (berarti masih sepupu). Ketika Nabi membawa risalah Islam, Abu al-Ash tidak langsung masuk Islam. Saat itu, belum ada larangan pernikahan beda agama.

Tapi, konflik muslim dan non muslim Quraisy kian lama kian pelik. Nabi berhijrah. Kemudian pecah perang Badar. Abu al-Ash bukan seorang yang ingin ikut menyerang Nabi, ia hanya belum bisa menerima Islam.

Ia menghormati Nabi dan mencintai Zainab. Tapi ia diikat kontrak kesukuan. Ia pun ikut memerangi Nabi pada Perang Badar. Zainab remuk redam.

Abu al-Ash berakhir sebagai tawanan. Ketika Zainab tahu soal ini, Zainab mengirim kalung onyx-nya sebagai tebusan. Nabi menangis melihat itu. Abu al-Ash dibebaskan dengan syarat Zainab diantarkan ke Madinah.

Perlu beberapa waktu hingga akhirnya keduanya ikhlas untuk berpisah, walau belum bercerai. Zainab sedang hamil saat bersiap ke Madinah. Dia diteror oleh kaum Quraisy hingga keguguran. Singkatnya, Zainab dan Umamah berhasil migrasi ke Madinah diantar Kinanah dan dijemput Zaid bin Haritsah.

Tiga tahun kemudian Abu al-Ash menyelinap ke rumah Zainab dan meminta perlindungan. Zainab memberinya. Nabi, setelah mengetahui kabar itu, menyuruh Zainab memuliakan Abu al-Ash tapi jangan biarkan dia mendekatinya karena Abu al-Ash datang hanya untuk barang dagangannya.

Abu al-Ash bilang bahwa dia datang untuk mengembalikan barang dagangan yang ia kafilahi kepada pemiliknya masing-masing di Mekah. Dagangan itu dirampas oleh pasukan Muslim. Nabi mengiyakan. Abu al-Ash pergi seolah keperluannya memang hanya untuk urusan dagangan saja.

Tetapi setibanya di Mekah, setelah mengembalikan seluruh dagangannya, di depan semua orang ia bersyahadat. “Sesungguhnya,” lanjutnya, “tidak ada yang menghalangiku masuk Islam di tempat Muhammad kecuali karena aku takut kalian menyangka aku ingin memakan harta kalian.”

Abu al-Ash kembali ke Madinah dan Nabi melanggengkan pernikahannya dengan Zainab dalam Islam.

Editor: Azhar