TAKALAR- Proyek strategis nasional Sekolah Rakyat di Kabupaten Takalar berujung duka. Dua balita tewas tenggelam di lubang galian septic tank lokasi pembangunan, Rabu 27/5/2026.
Korban diketahui AZ, 4 tahun, dan MA, 3 tahun. Keduanya diduga terjatuh ke lubang septic tank di Desa Parappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, dan tidak dapat menyelamatkan diri.
Insiden ini sontak menyorot sistem pengamanan proyek Sekolah Rakyat yang menelan anggaran APBN Rp229,4 miliar.
Bupati Takalar Muhammad Firdaus Daeng Manye menuding PT Nindya Karya Persero selaku kontraktor utama lalai menjalankan standar keamanan.
“Kita semua berduka mendalam. Ini sebenarnya tidak akan terjadi jika pihak perusahaan memaksimalkan pengamanan di lokasi,” tegas Firdaus, Sabtu 30/5/2026.
Pemerintah Kabupaten Takalar mendesak tiga hal kepada kontraktor:
1. *Pertanggungjawaban* kepada keluarga korban
2. *Evaluasi menyeluruh* terhadap sistem pengamanan area kerja
3. *Pengawasan ketat* agar kejadian serupa tidak terulang
Firdaus menekankan, lokasi proyek yang berdekatan dengan permukiman warga wajib memiliki pengamanan ekstra. “Lubang galian seharusnya ditutup atau dipagari rapat,” ujarnya.
Sekolah Rakyat Takalar dibangun di atas lahan 5 hektare eks Rumah Pemotongan Hewan milik Pemkab Takalar. Pembangunan dimulai Desember 2025 dengan nilai kontrak Rp229.451.220.000. PT Nindya Karya ditunjuk sebagai pelaksana.
Hingga Jumat 30/5/2026, pihak PT Nindya Karya belum memberikan keterangan resmi terkait tragedi tersebut.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan publik: bagaimana lubang sedalam itu bisa dibiarkan terbuka dan mudah diakses anak-anak?
Dua nyawa melayang di proyek yang semestinya menjadi simbol masa depan pendidikan. Kini, Pemkab Takalar menuntut pembenahan total agar keselamatan warga menjadi prioritas utama selama proyek berjalan.
Editor: Azhar


